Lagi, MIGAS di Aceh

Hari itu, Rabu, 13 Februari 2008, saya membeli koran Serambi Indonesia (jarang-jarang lho saya beli koran). Pada halaman depan tertulis judul berita “Temuan Migas Aceh Sebatas Indikasi”. Temuan migas ini berada di perairan Simeulue, tim riset kelautan secara tidak sengaja menemukan beberapa indikasi yang bisa diduga terdapat kandungan minyak dan gas. Tapi Marzuki Daham BSc, seorang putra Aceh yang juga seorang konsultan perminyakan lulusan Texas A & M University, Amerika Serikat, mengatakan bahwa ini masih terlalu prematur kalau disebutkan sudah ditemukan sumber migas berskala besar di Aceh, jadi masih sebatas indikasi.

 
Potensi minyak dan gas yang diperkirakan ada sekitar 107 – 320 milyar barel.
Kalau memang ini benar adanya berarti sejarah baru di bidang hidrokarbon mulai terukir, demikian yang diberitakan Serambi Indonesia. Dunia akan mencatat inilah pertama kalinya potensi cadangan minyak dan gas berskala raksasa (giant field) ditemukan di cekungan busur muka (fore arc basin). Secara geologis, ini merupakan kawasan muka pada lokasi penghunjaman lempeng Indo-Australia ke lempeng Eurasia yang langka akan kandungan migas.

 
Sebagai orang Aceh, tentunya saya berpikir, jikalau memang ini bisa jadi kenyataan, akankah warga Aceh benar-benar bisa jaya dan makmur secara keseluruhan? Atau akankah terjadi seperti yang lalu seperti halnya yang terjadi di Lhokseumawe, Aceh Utara? Dimana kekayaan Aceh malah dibawa keluar, yang makmur daerah lain, sedangkan warga Aceh sendiri dibiarkan miskin. Akankah potensi yang baru di Simeulue ini nantinya akan dicaplok lagi oleh orang luar? Baik orang luar daerah maupun orang asing. Tentunya saya berharap Aceh bisa makmur seperti masa Sultan Iskandar Muda dulu. Dan tentunya pula saya tidak ingin Aceh dianaktirikan oleh pemerintah Indonesia seperti yang dulu-dulu. Aceh sudah sangat menderita dengan konflik yang paaanjaaang, akankah ini saatnya warga Aceh bisa kaya?  

 
Sebenarnya bukan hanya kekayaan migas saja yang dipunyai Aceh, tapi ada juga dalam bidang tumbuh-tumbuhan. Saya mendengar dari seorang warga Aceh di Cot Girek, dimana daerah Cot Girek merupakan ladang kelapa sawit terbesar, katanya daerah ini sekarang sudah ditutup akibat ulah orang luar yang tidak senang kalau daerah Aceh bisa punya penghasilan sebesar ini. Dan masih banyak cerita-cerita lain dimana kekayaan Aceh tidak diakui.

 
Sebelum saya membaca berita di koran ini, saya telah lebih dahulu mendengar cerita dari orang-orang. Bahwa keberadaan migas ini (kalau memang benar adanya) “terkuak” keberadaaannya sewaktu tsunami terjadi. Jadi kata mereka, setelah terjadi gempa pra-tsunami itu, di daerah tersebut (tidak disebutkan di daerah sebelah mana) mereka melihat ada semacam semburan gas keluar dari bumi. Benar tidaknya saya juga gak tau deh. Kita tunggu saja perkembangan penyelidikan dari sono.

11 thoughts on “Lagi, MIGAS di Aceh

  1. pak rovicky dah nanggapin tuh ray di blognya
    kabarnya bisa mencapai 107-320 miliar barel!! bisa tuk explorasi ratusan tahun tuh
    meskipun masih “indikasi” moga2 aja bener
    orang aceh jadi kaya raya, :D

    Mari kita buat sejarah baru dari Aceh. Apalagi setelah sekian lama Aceh menderita konflik berkepanjangan. Hehe…

  2. pak gimana tentang program pemerintah tentang adanya migas terbaru di aceh ini??????????
    apakah ada awareness?????????
    selama ini sudah seberapa besar upaya pemerintah untuk melindungi sekaligus memanfaatkan minyak tebaru yang melebihi komoditas seperti layaknya yang ada di SAUDI ARABIA???????????
    apakah negara kita bisa makamur seperti layaknya negara2 yang lain??????????bisakah kita mengalahkan AMRIK???????????//

    Hehe… Saya cewek loh, jadi bukan Pak. Negara kita sebenarnya kaya, hanya SDM nya yang kurang untuk meberdayakan SDA. Dengan kekayaan yang dimiliki Indonesia, saya yakin kita pasti bisa nantinya maju seperti negara2 lain, hanya saja SDM harus terus diberdayakan. Mengalahkan Amrik?? Tidak ada yang tidak mungkin kok :) Modal pertama dan yang terutama adalah Kepercayaan bahwa kita mampu.

  3. Pak Rayyan.he..he…he…mungkin perlu ditulis besar2 ray. Saya Akhowat :D

    Aduh Mas, jangan dibesar2kan deh… Ok deh sekali lagi saya katakan “Saya cewek loh….”

  4. semoga dengan adanya penemuan ‘tak sengaja’ dari bppt itu, benar2 memberi barokah kepada warga aceh khususnya dan seluruh rakyat indonesia pada umumnya..

    Aaamiin…..

  5. apakah kabar itu telah terbukti adanya??? atoka hanya semacam dongeng penghibur untuk wilaya yang tertimpa musibah itu!!! kalo memang betul keberadaannya apa saja langka-langka yang telah dilaksanakan pemerintah sebagai antipasi terhadap migas tersebut

  6. bagaimana reaksi pemerintah pusat tentang teredarnya berita ini? apakah akan dilakukan penelitian ulang terhadap pemberitaan migas yang ada di simeulue tersebut?

  7. Masya Allah… hari gini pada ribut soal minyak ?!

    Merespon pendapat-pendapat diatas, terlebih dahulu saya mengungkap diri bahwa saya salah seorang putera asli Simeulue yang hampir 24 tahun malang melintang jadi kuli di negeri orang, antara lain sebagai tenaga Engineer di Angkatan Darat dan Dinas rahasia Kementerian dalam Negeri Arab Saudi, juga sebagai special Engineer Komunikasi Haji Mekkah dan Madinah.

    Sewaktu Tsunami saya berada di Simeulue dan ketua salah satu Partai Politik dan juga niatan membangun Resort dengan investor dari Spanyol, setelah Tsunami saya undur diri dan terbang kembali jadi kuli di Yaman Selatan dan bekerja di OXY Occidental Petroleum milik Amerika Serikat.

    Sebetulnya soal Migas Simeulue itu sudah puluhan tahun orang Simeulue tau kabar-kabarnya ada minyak bumi, dan kami sendiri jauh sebelumnya sudah ada niatan ingin mengajak salah satu badan usaha untuk explorasi setelah memenuhi segala persyaratan baik dari Pertamina dll, hanya saja terus tertunda dan belum saatnya.

    Memang kepala ini terus berfikir bagaimana Simeulue ini bisa maju, kemungkinan hanya dengan Migas bisa merubah ekonomi dan wajah Pulau ini, itulah yang selalu tergambar dipikiran karena bagaimana kemajuan ekonomi dan Teknology yang dicapai timur tengah, seperti Pulau Bahrain, Dubai misalnya dan lain-lain, masak kita juga tidak.bisa.

    Pulau Simeulue dengan Ibu Kota Sinabang, terus bergaul dengan derita, di tahun 1980 Kota Sinabang terbakar 90% bangunan perrtokoan ludes, selajutnya disusul merosotnya harga Cengkeh, kemudian Tsunamipun menghabiskan kota-kota Kecamatan sekeliling Pulau.

    Kami orang Simeulue dulu kaya dengan hasil cengkeh
    dan kopra, sewaktu harga Cengkeh melambung hingga ada orang Simeulue yang membangun Mesjid dengan biaya peribadi.

    Tapi setelah BPPC bermain, akhirnya kami jatuh kedalam kesusahan dan kesulitan karena hasil pokok kami tersebut harganya menjadi hancur, batang-batang cengkeh kami pun malah disuruh tebang, padahal ada yang umur batang cengkeh tersebut 95 tahunan.

    Dizaman Orde Baru benar-benar kami lumpuh hampir tidak diperhatikan, saya merasakan bagaimana lelah montang manting di Jakarta menemui beberapa Menteri hingga ke Cendana, memohon agar jalan di Simeulue diaspal, diadakan kapal Ferry untuk transportasi ke daratan Sumatera khususnya ke Meulaboh, memohon dibangun lapangan terbang, harus pake susah payah rupanya seperti orang ngemis, luar binasa deh.

    Yah mungkin ada unsur politik Orba dibalik itu, Maklumlah kami orang Aceh kan mayoritas kaum Muslimin dan Muslimat, dulu zaman orba partai Islam itu cuma PPP, jadi rata-rata yah milih PPP, mungkin karena politik inilah kami orang Aceh jadi korban kurang diperhatikan disegala aspek, dan pahit itupun lebih terasa di Simeulue.

    Kejadian ditahun 1983 masih terkesan kisah sedih dan malu di hati ini rasanya, bagaimana tak malu, baru jadi pengantin dg isteri cantik pula, berbulan madu ke daerah awak, isteripun geleng-geleng kepala tak habis-habisnya.

    Lho kan sejarahnya Aceh ini luar biasa hebatnya bang…! kemajuan di Indonesia ini dalam sejarah yah dari Aceh ini setauku dalam sejarah, yah Pesawat, yah Kereta api, ya Islam, ya kekayaan, yah para Tokoh Ulama, Pahlawan, terkenal pula hebat menumpas Penjajah,

    Bahkan aku pernah baca semenanjung Malaysia dan Singapura pun dulu milik Aceh kan bang ! Lha yang di Mekkah sana kan ada 21 buah gedung tegak berdiri masih milik Aceh juga kan bang…! Aku cuma bilag, nanti ku jahit mulutmu itu sayang, makanya jangan berkicau terus macam burung cicakrawa.

    Sayapun hanya bersedih mendengarnya, dia terus saja nyeloteh sampai Bulog dan BNI46 tak lupa dia sebut, isteriku kebetulan moyangnya juga turunan Aceh,Jawa dan Bugis, jadi campuran tapi sehari-hari bahasanya Jawa.

    Dari Banda Aceh ke Meulaboh, jalan tak beraspal, busnya berkali-kali pula naik rakit disetiap ada sungai besar, tiba di Meulaboh rambut pun seperti kawat karena tebalnya debu jalanan, setiba di Meulabohpun harus berhari-hari menunggu ada boat kayu ke Simeulue, isteriku yang cinta Aceh penuh simpati itu pun kini telah tiada 151 hari yang lalu, di kampungku Simeulue dia cukup dikenal erat.

    Belakangan ini dengar berisik-berisik soal minyak didaerah kami jadinya pusing juga kepala ini, kok pada ribut rame sana sini sh ?. Yang terbayang bagi saya malah jangan-jangan kami rakyat Simeulue nanti akan disamakan seperti daerah penghasil migas lainnya, dan mungkin juga seperti Freeport di Irian Jaya, semoga saja tidak seperti zaman Orde Baru ya !

    Tapi kami sudah bersatu sikap bahwa kami tidak mau lagi diam begitu saja, dari selama ini kami diam, dari selama ini kami dianak tirikan, bahkan daerah kamipun digelari daerah terpencil dan terisolasi lagi, bahkan kadangkala P.Simeulue sampai hilang dari peta gambar tuh.

    Bantuan Tsunami pun lebih deras kedaerah lain, padahal pusat Tsunami ditempat kami, setelah Tsunami 7 hari komunikasi terputus, Engineer atau Teknisi dari luar daerah tak kunjung datang akhirnya saya sendiri yang pertama ke kantor telekom, dengan memo dari Bupati saya berusaha memperbaiki saluran Telephon walau pun cuma dapat satu line misalnya, sedang pegawai Telekom masih pada trauma sepertinya.

    Oooo Simeulue masih ada ya… !! Padahal Andi Mallarangeng juru bicara kepresidenan dah bilang Simeulue telah lenyap, bilang lenyaap….! emang nya udah nyari apa !?, lu lu luu luar biasaa.

    Sekarang jutaan mata memandang Simeulue, mungkin juga ingin memeluk dan mecium sekaligus ya entaah….

    Kalau saya sih yah welcome saja asal siap kerjasama dengan unuk bangun Simeulue dan taat syaria’at sebagai rule yang berlaku disana.

    Sementara comment saya sampe disini dulu yah, kalau ada komentar nya langsung aja ke email saya deh, ibr_h2007@yahoo.co.id mana tau pingin denger cerita kisah Tsunami………

    Wassalamualaikum.wr.wb.

  8. emng benar ini ada syukur kita dpt reziki yang luar biasa,ni anugerah buat masyarak aceh,tp kt jngn lp dri kpd allah….jgn trgiur dng hrt benda yang sipatnya sementara,,,,,kpd pemerintah daerah mari kt jg bersama aset daearah,dan kt harus waspadai dengan komflik dalam tau luar krna byk investor luar negri mmcari kesempatan apabila msyarakat tdk jeli n seleksi dalam kerja sama dan begitu juga pemerintah mg dapat menjaga n menbawa aceh sejahtera,jagan mengulagi lagi masa lalu yang telah kt rasakan selama komflik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s