Pernah baca buku Business School atau Cash Flow Quadrant karangan Robert T. Kiyosaki? Di buku tersebut ada dibahas mengenai sumber penghasilan manusia di dunia ini berasal dari salah satu atau kombinasi dari empat macam kuadran berikut, yaitu kuadran Employee, Self Employee, Business Owner, dan Investor. Saya hanya ingin membahas tentang kuadran Employee, sedangkan yang lainnya silakan baca bukunya saja jika berminat untuk mengetahui lebih lanjut.
Seseorang dikatakan berada di kuadran employee/karyawan jika orang tersebut bekerja untuk orang lain, baik untuk badan usaha pemerintah maupun swasta dan kemudian menghasilkan uang. Contohnya banyak di antaranya seperti PNS, guru, karyawan, atau bahkan seorang manajer sekalipun. Karena mereka yang berada di kuadran ini harus kerja terlebih dahulu baru bisa mendapatkan uang, jika berhenti kerja maka penghasilanpun ikut berhenti. Profesi kerja seperti di atas sangat difavoritkan tidak hanya di Indonesia saja tapi juga di seluruh penjuru dunia ini. Buktinya lihat saja ketika ada lowongan kerja PNS, berbondong-bondong orang ikut tes CPNS, padahal yang diterima hanya segelintir saja.
Mereka yang berada di kuadran ini harus mengenal yang namanya 7 P (pergi pagi pulang petang pendapatan pas-pasan) ditambah lagi habis bulan habis gaji. Kondisi seperti ini dengan kata lain mereka menjual/menukar waktunya dengan uang. Selain keterikatan jam kerja seperti itu, mereka juga terikat dalam hal-hal lainnya. Jika mau libur tidak bisa sembarangan, cuti pun harus dapat izin, mau menikah juga diatur, semuanya serba diatur, tidak bisa sesuai keinginan hati. Belum lagi kalau dipindahtugaskan ke daerah, kemanapun dipindahtugaskan mau tidak mau ya harus mau. Nah, saya pernah mendengar pengkauan dari seseorang, dia mengatakan bahwa kondisi seperti ini sama saja dengan budak. Budak dari bosnya, waktunya, dan uangnya. Hanya saja kata-kata budak tersebut terlalu kasar untuk disebutkan, sehingga untuk di tingkat pemerintahan disebutlah dengan kata-kata “Abdi”. Abdi negara, atau apapun namanya, intinya tetap sama, yaitu “budak”. Karena bukankah yang dikatakan seorang budak adalah orang yang sepenuhnya dari dirinya adalah milik majikannya. Lihat saja bagaimana budak-budak di zaman Rasulullah SAW, seorang budak tidak mempunyai kemerdekaan apapun terhadap dirinya. Nah, jadi apa bedanya dengan karyawan? Hanya lebih modern dan lebih halus. Ya…. Betis lah alias BEda TIpiS. Maaf kalau ada yang merasa tersinggung gara-gara tulisan ini, tapi saya hanya sharing aja pendapat dari orang-orang yang pernah saya dengar.
Filed under: Pengembangan Diri | Tagged: abdi, bos, budak, employee, karyawan, kuadran, PNS, profesi, sumber penghasilan



weheheh..akhirnya keluar dari pertapaan. Lum pernah baca buku itu tuh
ceritain dong
belum
iya neeh, aku juga termasuk yang berasa dikuadran employee dan sekarang bermaksud menyebrang ke kuadran bussiness owner (walaupun kecil2 an).hanya saja keberanian itu belum terukur maksimal karena masih terhambat modal dan prospek pasar. Masih aja ada rasa khawatir jika pendapatanku nt bakal kurang bahkan menjadi noll. gimana neeh ada saran?
sekarang aku sudah menjadi ibu rumah tangga yang bekerja dan memiliki gadis kecil yang cantik.