Libur “Kejepit” atau Cuti Bersama, Setujukah?

Setelah dihitung-hitung, jumlah hari libur di tahun 2008 ini meningkat dari sekitar 106 hari libur di tahun 2007 menjadi sekitar 118 hari libur di tahun 2008, meliputi di dalamnya hari libur tanggal merah, Sabtu Minggu, plus hari libur “kejepit” atau cuti bersama. Maksud istilah “kejepit” disini misalkan tanggal merah bertepatan dengan hari Kamis, maka hari Jumat akan dilanjutkan liburnya dikarenakan Sabtu Minggu juga libur kerja.

Tempo hari saya menghadiri kelas debat, tapi kelas non-formal, membahas mengenai libur “kejepit” ini. Yang namanya debat pasti ada grup pro dan grup kontra donk. Bagi grup pro, secara umum mengatakan… bahwa dengan adanya cuti bersama tersebut maka sebagian orang bisa memanfaatkan waktu libur (tanggal merah plus cuti bersama) untuk refreshing, menghabiskan waktu bersama keluarga, dimana pada hari-hari biasanya tidak sempat karena selalu sibuk sehingga tak banyak waktu untuk keluarga, dan lain lain. Sehingga ketika kembali bekerja nanti sudah mendapatkan semangat kerja baru, energi baru, pikiran yang lebih fresh, dan lain-lain.

Tapi tentunya berbeda pendapat dengan grup kontra. Ada beberapa alasan bagi mereka atas ketidaksetujuan dengan adanya libur “kejepit” atau cuti bersama tersebut, diantaranya :
1. Banyaknya libur hingga berjumlah lebih kurang 118 hari tersebut akan menyebabkan rakyat menjadi malas. Tapi memang sih, pengennya kalau udah sekali libur maka seterusnya tetap libuuurrr…..
2. Pelayanan publik akan terganggu, karena otomatis kantor-kantor juga akan tutup sehingga rakyat tidak bisa mengurus kebutuhannya.
3. Berdampak buruk bagi pebisnis. Bagi karyawan ya merdeka banget kalau ada hari libur, tapi bagi para pemilik bisnis mereka tentu tak ingin ada hari libur.
4. Bagi mahasiswa juga berdampak. Walaupun sebagian aktivitas kampus masih tetap jalan pada hari libur, tapi secara akademik kampus tutup, sehingga mahasiswa tidak bisa menjumpai dosen yang saat itu lagi dibutuhkan dan juga tidak bisa mengurus administrasi yang diperlukan. Hal ini sering terjadi dengan mahasiswa yang sedang mengurus skripsi.
5. Terlalu banyak libur membuat semangat siswa/mahasiswa menurun, tapi secara umum yang namanya siswa/mahasiswa pasti “merdeka” banget kalau ada hari libur. Ya gak…

Selain itu, pada salah satu koran terbitan Aceh, Serambi Indonesia, edisi Sabtu, 12 Januari 2008 di halaman depan, ada berita dengan judul “Pasien Miskin Terlantar, Ditinggalkan Dokter yang Pergi Liburan”. Nah lho… Kalau udah gini nih bisa dikatakan ‘Gak boleh sakit kalau sedang waktu libur’. Bahkan ada tempat pratek dokter yang jangan hari libur cuti bersama dan tanggal merah, hari Sabtu Minggu juga tutup. Weleh… Weleh…. Memangnya sakit bisa “dipesan” ? Jangan sakit hari Sabtu dan Minggu.

Bagaimana dengan pendapat Anda?

2 thoughts on “Libur “Kejepit” atau Cuti Bersama, Setujukah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s